RSS

Cadangan Batu Bara Nasional Naik 33,3%

23 Feb

JAKARTA (IFT) – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat cadangan batu bara Indonewsia hingga akhir 2011 sebanyak 28 miliar ton, naik 33,3% dari akhir 2010 sebesar 21 miliar ton. R Sukhyar, Kepala Badan Geologi, mengatakan tambahan cadangan tersebut seiring dengan meningkatnya kegiatan eksplorasi yang dilakukan para produsen batu bara.

Selain cadangan yang meningkat, Badan Geologi juga mencatat kenaikan sumber daya batu bara sebesar 53,3% dari 105 miliar ton pada akhir 2010, menjadi 161 miliar ton pada 2011.  Dari total sumber daya tersebut, sekitar 41 miliar ton berada di tambang bawah tanah dengan kedalaman lebih dari 100 meter.  “Sekitar 120 miliar dari sumber daya batu bara itu berada di tambang terbuka,” ujar Sukhyar kepada IFT, Rabu.

Menurut Sukhyar, pemerintah akan terus mendorong peningkatan pemanfaatan batu bara di dalam negeri karena saat ini sebagian besar dari hasil produksi batu bara nasional di ekspor. “Gap ekspor dengan konsumsi dalam negeri sangat besar,” katanya.

Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI) menyatakan produksi batu bara nasional sepanjang 2011 mencapai 370 juta ton, meningkat 32% dibandingkan 2010 sebesar 280 juta ton dan 13,15% lebih tinggi dari proyeksi pemerintah sebesar 327 juta ton. Namun, penyerapan domestik hanya mencapai 65 juta ton, lebih rendah dari kuota kewajiban pasok domestik (domestic market obligation/DMO) tahun lalu sebesar 78,97 juta ton. Komposisi penjualan batu bara untuk pasar ekspor dan domestik tahun lalu masing-masing 82,5% dan 17,5%.

Asosiasi juga memperkirakan produksi batu bara nasional tahun ini 380 juta-390 juta ton. Proyeksi melambatnya pertumbuhan produksi ini sudah memperhitungkan kondisi perekonomian global yang terus dibayangi ancaman krisis serta permintaan dari China dan India yang tetap tinggi.

Widjajono Partowidagdo, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan pemerintah akan menggencarkan kegiatan eksplorasi agar potensi sumber daya batu bara yang ada dapat segera berubah statusnya menjadi cadangan terbukti. “Produksi batu bara yang ada  harus ditertibkan. Jangan sampai ada produksi atau ekspor yang tidak tercatat,” katanya.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk (BUMI),produsen batu bara terbesar, sebelumnya memproyeksikan Bumi Resources menargetkan produksi sekitar 75 juta ton, naik 13,6% dari estimasi tahun lalu 66 juta ton. Target produksi itu berasal dari dua anak usaha perseroan yang menambang batu bara di Kalimantan, yaitu PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal.

Garibaldi Thohir, Direktur Utama PT Adaro Energy Tbk (ADRO), perusahaan batu bara terbesar kedua, tahun ini menargetkan produksi mencapai 53 juta ton, tumbuh 11% dari tahun lalu 47,7 juta ton.

Sentimen Positif

Bob Kamandanu, Ketua Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia, mengatakan dengan adanya kenaikan cadangan batu bara dari 21 miliar ton menjadi 28 miliar ton memberikan sentimen positif bagi industri batu bara dalam negeri. Hal itu disebabkan data tersebut dapat memberikan proyeksi terhadap kelanjutan industri batu bara di Indonesia di masa depan. Namun, Bob mengingatkan, perusahaan tambang batu bara juga harus meningkatkan kegiatan eksplorasi agar potensi cadangan batu bara nasional tidak mengalami stagnasi. Di sisi lain, produksi batu bara nasional cenderung meningkat setiap tahunnya. “Ini yang membuat cadangan batu  bara habis,” ujar Bob.

Singgih Widagdo, Ketua I Sumber Daya Alam, Ikatan Ahli Geologi Indonesia, menyarankan pemerintahmembuat cetak biru (blue print) mengenai visi pemanfaatan batu bara untuk pemenuhan energi nasional. Dalam cetak biru tersebut diproyeksikan berapa pertumbuhan kebutuhan batu bara di dalam negeri secara jangka panjang. Dengan begitu, pemerintah bisa menentukan bagaimana cara memenuhi kebutuhan itu. “Misalnya dengan mulai melakukan pembatasan produksi batu bara dan menggalakkan kegiatan eksplorasi,” kata dia.

Menurut Singgih, pemenuhan kebutuhan batu bara untuk konsumen domestik saat ini memang selalu dapat terealisasi karena tingkat produksi batu bara nasional jauh lebih besar dibandingkan permintaan.  Namun, Singgih menambahkan kebutuhan konsumsi di dalam negeri itu akan terus meningkat sehingga harus diantisipasi agar pemenuhannya di kemudian hari tidak berasal dari luar negeri. “Pembuatan blue print ini harus dilakukan oleh Dewan Energi Nasional,” ujarnya. (*)

BY AGUNG BUDIONO & NURSEFFI DWI WAHYUNI

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 23, 2012 in Berita Tambang Dalam Negeri

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: