RSS

Laba Bersih Indo Tambangraya Naik 167,5%

23 Feb

JAKARTA (IFT) – PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), produsen batu bara terbesar keempat, tahun lalu mencatat kenaikan laba bersih 167,5% menjadi US$ 546,13 juta atau US$ 0,48 per saham dibandingkan 2010 sebesar US$ 204,15 juta atau US$ 0,18 per saham. Kenaikan laba bersih terutama dipicu peningkatan produksi dan harga jual.

Somyot Ruchirawat, Presiden Direktur Indo Tambangraya, mengatakan pendapatan perseroan tahun lalu mencapai US$ 2,38 miliar, naik 45,1% dari 2010 sebesar US$ 1,64 miliar. Peningkatan pendapatan diikuti dengan lebih rendahnya kenaikan beban pokok penjualan (cost of goods sold) sebesar 32,2% (year-on-year) menjadi US$ 1,49 miliar dari US$ 1,12 miliar. “Laba kotor meningkat 72,2% menjadi US$ 892,07 juta dari US$ 518,05 juta,” paparnya.

Indo Tambangraya juga berhasil menekan beban usaha sehingga hanya naik 19,3% dan laba usaha tumbuh 94,8% (year-on-year) menjadi US$ 706,91 juta dari US$ 362,91 juta. Perseroan juga mencatat keuntungan transaksi derivatif sebesar US$ 34,3 juta berbanding rugi US$ 54 juta di 2010. Karena itu, laba sebelum pajak mencapai US$ 729,93 juta, naik 163% dari 2010 sebesar US$ 277,35 juta.

Edward Manurung, Direktur Keuangan Indo Tambangraya, mengatakan kenaikan tajam kinerja keuangan perseroan disebabkan peningkatan produksi dan harga jual rata-rata serta efisiensi. Sepanjang tahun lalu, perseroan memproduksi 25 juta ton batu bara, meningkat 13,6% dibandingkan 2010 sebesar 22 juta ton. Adapun harga jual rata-rata naik 29,5% menjadi US$ 97 per ton dari US$ 74,9 per ton.

Kinerja yang dicapai Indo Tambangraya sepanjang tahun lalu melampaui ekspektasi analis. Berdasarkan konsensus Bloomberg, analis memperkirakan laba bersih perseroan tahun lalu hanya US$ 480 juta atau US$ 0,42 per saham.

Mengacu pencapaian sepanjang tahun lalu, margin profitabilitas Indo tambangraya juga meningkat signifikan. Margin laba kotor naik menjadi 37,45% dari 31,49%. Margin laba usaha menjadi 29,68% dari 22,07%, sedangkan margin laba bersih menjadi 22,93% dari 12,41%.

Indo Tambangraya tahun ini mengalokasikan belanja modal US$ 220 juta dalam rangka mencapai target penjualan 27 juta ton. Menurut Edward, kenaikan volume penjualan salah satunya disebabkan kontribusi PT Bharinto Ekatama yang tahun ini mulai berproduksi dengan target 500 ribu ton. “Dari target penjualan tahun ini, sekitar 20% sudah terkontrak,” ujarnya.

Yulius Gozali, Deputy Director Head of Investor Relation Indo Tambangraya, mengatakan perseroan memproyeksikan harga jual rata-rata tahun ini sekitar US$ 95-US$ 100 per ton. Untuk penjualan kontrak, biasanya 95% menggunakan harga tetap dan 5% mengikuti indeks harga batu bara.

Wisnu Karto, analis PT eTrading Securites, mengatakan besarnya posisi kas memungkinkan perseroan untuk memberikan dividen yang cukup besar untuk tahun buku 2011. Pada Oktober tahun lalu, perseroan membagikan dividen interim dengan dividend payout ratio 75%. “Kami meyakini tren ini akan berlanjut,” paparnya.

Menurut dia, saham Indo Tambangraya saat ini diperdagangkan pada price to earning ratio (PER) yang lebih rendah dibandingkan industrinya, yaitu 10,97 kali berbanding 16,77 kali. “Rendahnya PER serta ekpektasi ekspektasi dividend payout yang tinggi dapat menjadi katalis positif bagi pergerakan saham perseroan,” tuturnya. Pada perdagangan Rabu, harga saham Indo Tambangraya naik Rp 450 atai 1,05% menjadi Rp 43.500.

Stock Split 

PT Petrosea Tbk (PTRO), perusahaan jasa pertambangan yang dikendalikan PT Indika Energy Tbk (INDY), berencana melakukan pemecahan nilai nominal saham dengan rasio 1:10. Nantinya, nilai nominal saham perseroan menjadi Rp 50 dari Rp 500 per saham, sedangkan jumlah saham yang tercatat 1,008 miliar saham.

Rencana tersebut telah mendapatkan persetujuan pemegang saham pada 21 Oktober 2010. Sesuai rencana, perdagangan saham perseroan dengan nilai nominal baru akan dimulai pada 6 Maret.

Indika Energy sebelumnya telah melakukan transaksi penjualan kembali (refloat) saham Petrosea sekitar 25,2 juta saham atau setara 25%. Citigroup Global Markets Limited dan Macquarie Capital (Singapore) Pte Limited berperan sebagai initial purchasers.

Aziz Armand, Direktur Indika Energy, menuturkan transaksi itu diselesaikan pada 9 Februari 2012 dengan harga Rp 36 ribu per saham. Citi dan Macquarie memiliki opsi untuk membeli saham-saham tambahan Petrosea sebanyak-banyaknya 3,78 juta saham sehingga total saham yang dilepas kembali mencapai 28,99 juta (28,75%) dengan nilai Rp 1,04 triliun. (*)

BY AGUNG BUDIONO & HERY KUSWAHYO

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 23, 2012 in Berita Tambang Dalam Negeri

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: