RSS

KPK Harus Selidiki Kolusi di Tambang

27 Feb

Pengamat: Sektor Tambang Menjadi Sponsor Tampuk Kekuasaan

BALIKPAPAN- Wakil Menteri ESDM Prof Widjajono Partowidagdo menilai sudah seharusnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turun langsung menangani kasus dugaan korupsi di sektor pertambangan. Dia menilai usaha usaha pertambangan sangat menggiurkan dan kemungkinan besar terjadi kolusi.

“Saya pernah ketemu KPK, mereka bilang bahwa di tambang ini banyak tidak beresnya. Saya bilang silakan dibereskan, ini harus ada hukum, harus ada yang ditakutkan dari masalah yang tidak benar ini supaya tidak melakukannya lagi,” ujarnya.

Karena izin ini dikeluarkan oleh bupati atau walikota, maka masyarakat harus lebih banyak mengawasi proses ini. Sementara pemerintah pusat memberikan arahan dan aturan main yang sesuai. “Seperti Samarinda yang bolong-bolong, itu walikotanya bukan tidak dengar, pasti dengar. Nah keluhan ini perlu diungkapkan ke publik jangan sampai hal yang sifatnya politis itu tertutupi. Nantinya mereka makin lama makin takut,” ujarnya.

Selain makin banyak kerusakan tambang yang makin parah, tambang juga dinilai menjadi alat yang digunakan untuk menyetir kekuasaan.  Pada kesempatan yang sama Ekonom UGM Revrisond Baswir menilai, kehadiran usaha pertambangan sudah sampai pada level tidak lagi sekedar mengusahaan usaha-usaha  pertambangan  di bawah kekuasaan negara, namun kondisinya sudah terbalik, justru orang-orang sektor pertambangan  yang menentukan orang yang berkuasa.

“Kelas dominan diisi oleh orang-orang pertambangan, elit pengusaha sangat berperilaku ekstraktif, lihat daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes, jelas itu orang bermain di sektor pertambangan,” tandas Revrisond dalam seminar tambang gelaran Aji Balikpapan di Hotel Grand Tiga Mustika Balikpapan, Sabtu (25/2) lalu.

Sektor tambang, katanya, menjadi sponsor  bagi tampuk kekuasan. Bahkan, ia menilai rezim yang berkuasa di Indonesia tak lepas dari rezim pertambangan atau ekstraktif. “Kalau sudah begini, landasan normatif jadi lupa.Boro-boro mau  memperbaiki lingkungan yang ada bagaimana mengejar keuntugan dari target produksi yang sebanyak-banyaknya,”nilainya.

Penilaian Revrisond ini juga dibenarkan oleh pihak Dinas Pertambangan Kaltim. Kepala Seksi Pengusahaan Pertambangan Bidang Pertambangan Umum Distamben Kaltim Markus Taruk Allo mengatakan, dalam situasi jelang perhelatan politik (Pemilukada), perusahaan tambang ikut andil gabung. “Mereka para pengusaha masing-masing punya jagoan, entah sponsor atau apa, tapi inilah kondisinya,” ujarnya.

Selain itu, ada sisi aturan yang memberikan celah bagi pengusaha batu bara yang berkedok usaha perumahan. Batu bara yang ditemukan di lokasi pengembangan perumahan dapat leluasa mereka angkut  keluar untuk dijual.

“Dalam IUP itu, ada izin operasi khusus pengangkutan dan penjualan. Mereka usaha perumahan tapi semua itu berkedok. Pengembang yang dikejar ya pertambangan (batu bara),“ tandas Markus. Provinsi, diakuinya, tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya,  hal itu tidak lepas dari kewenangan kepala daerah (bupati atau walikota) yang punya kewangan penuh dalam otonomi daerah.

Markus mengemukakan jumlah IUP operasi produksi yang saat ini sudah tercatat di Kaltim mencapai 300 buah. “Data yang kami pegang mencatat ada 800 IUP di seluruh Kaltim. Kalau yang beroperasi baru 300 IUP, maka masih ada 500 IUP lagi yang akan menyusul beroperasi,” ungkapnya.

Sebagian besar IUP operasi produksi tersebut berada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara yang mencapai 217 IUP. Sisanya, tersebar di beberapa kabupaten kota yang ada di Kaltim, seperti Samarinda, Kutai Barat, Kutai Timur, Penajam Paser Utara dan Berau. (din)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 27, 2012 in Lain-lain

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: