RSS

Tambang Harusnya Berjarak 2-3 Jam dari Kota

27 Feb

RASA penasaran membuat empat mahasiswa asal Australia, R coo (21), Estela (20), Hamish (22) dan Liee (22) pergi tur ke kota Samarinda. Mereka tak hanya melihat wisata alam dan budaya suku asli Dayak di Desa Pampang Samarinda Utara. Namun mereka juga melihat aktivitas tambang di ibukota provinsi Kaltim ini sampai di daerah Kutai Kartanegara. Selama empat hari, mereka ikuti toxic tour bersama aktivis Jaringan Advokasi Tambang (Jatam). Apa tanggapan mereka?

Saat ditemui Tribun usai dari desa Pampang, Minggu (26/2), R Coo menuturkan bahwa permasalahan tambang batubara yang sangat dekat dengan pemukiman harus dipikirkan jalan keluar. Ia merasa heran dan takjub, setiap perjalanan selama lima puluh menit di kota Samarinda dan Jl Loa Duri Raya menemukan tambang batubara dimana-mana.

“Dengan ada tambang batubara pasti berdampak polusi. Saya tak bisa membayangkan bagaimana dampak terhadap masyarakat dari tambang. Kalau di Australia, tambang berjarak jauh yang ditempuh 2-3 jam dari kota,” kata R Coo.

Toxsic tour diadakan Jatam untuk mmemperlihatkan bagaimana daya rusak tambang terhadap lingkungan. Tur kelilingi Loa Kulu, Loa Duri dan singgah ke tambang CV Sulistia dimana konflik warga terhadap perusahaan tambang. Peserta tur dapat melihat tujuh konveyor tambang batubara di Jl Loa Kulu Raya. Alat yang mengangkut tambang dari stok field ke tongkang batubara bersandar di sungai Mahakam.

Selain itu, peserta juga dibawa ke Desa Kertabuana tempat lubang bekas galian tambang yang ditinggalkan tanpa reklamasi. Lubang itu jadi danau dan dikabarkan telah menewaskan tiga anak. R coo bersama tiga rekannya terkejut melihat tambang di kota Samarinda dan Kukar sangat dekat pemukiman dibandingkan informasi yang diterimanya selama ini lewat aktivis pecinta lingkungan.

“Saya sedang penelitian palm oil dan tidak tahu tentang tambang batubara. Tapi, saya pergi ke Kalimantan karena ada masalah dengan tambang. Informasi saya dengar dari aktivis Walhi, Bowo. Lalu saya diberitahu oleh Merah dari Jatam Kaltim. Saya pikir, harus dipikirkan solusi dari tambang yang berdampingan dengan tempat tinggal masyarakat di Kalimantan,” kata R Coo dari Universitas Monas Melbourne australia.

Dari perjalanan ke tambang di kota Samarinda dan Kukar, R coo berencana akan melaporkan dokumentasinya kepada aktivis anti tambang di Australia. Ia berharap dokumentasi itu bisa berguna untuk menyamakan visi terhadap tambang di Kalimantan dan Australia.

R Coo menceritakan, tambang di Australia diketahuinya dikelola sangat aman. Setiap area tambang terpasang pagar besi. Sehingga masyarakat tak mungkin mengetahui aktivitas tambang, apalagi masuk ke daerah jalan tambang. Pengamanan sangat ketat di tambang untuk mencegah terjadi kecelakaan.

Namun, R Coo menemukan hal berbeda di kota Samarinda. Tambang batubara berdampingan dengan pemukiman warga. Dampak polusi tambang pasti dirasakan masyarakat kota. Untuk itu, masyarakat harus terlibat mengawasi tambang. Begitu juga pertanyaan kepada perusahaan tambang apa yang disumbangkan kepada masyarakat sekitar.

Jika R Coo membuat dokumentasi tambang, beda halnya dengan rekannya. Estella, mahasiswa meneliti bidang perdagangan tertarik apakah Negara Indonesia mengembangkan energi alternatif. Lain pula Hamish memiliki minat pelajari musik gamelan Indonesia, akan membuat lirik lagu menggambarkan tambang di kota Samaarinda dan Kukar. Sedangkan Liee menilai tambang yang terus memperluas wilayahnya mempengaruhi budaya masyarakat yang akan semakin hilang dimana lingkungan tempat tinggal tergusur dari keasliannya.

Zaini Naim dari Jatam Kaltim mengatakan toxic tour ini sebagai peringatan Pemerintah Provinsi Kaltim dan Pemerintah Kota Samarinda bahwa kebijakan mengeluarkan izin tambang secara besar-besaran memberikan contoh buruk kepada masyarakat Indonesia dan bangsa lain. Tambang di Kaltim begitu brutal.

“Indonesia akhirnya seperti lilin. Kekayaan tambang batubara dibawa ke luar negeri untuk penerangan listrik. Tetapi, di dalam negeri terjadi tata kelola buruk terhadap tambang hingga mencelakai masyarakat dimana lima bocah di Samarinda tewas di bekas galian tambang. Energi dari batubara ingin kami katakan adalah energi yang kotor karena tambang asal batubara itu sangat buruk pengelolaannya,” kata Naim. (*)

Penulis : Muhammad Yamin
Editor : Sumarsono
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 27, 2012 in Berita Tambang Dalam Negeri

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: